Bima, Sangiangpost._ Pembina Forum Mahasiswa Pemerhati Hukum (FMPH), Hendri, mendesak Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) segera mencopot Kasat Narkoba Polres Dompu dan Polres Bima.
Desakan itu muncul menyusul dugaan kuat adanya pembiaran bahkan perlindungan terhadap salah satu bandar narkoba terbesar yang beroperasi di Kecamatan Sanggar dan Kilo.
Menurut Hendri, peredaran narkoba di dua wilayah tersebut sudah berlangsung secara terang-terangan. Ia menyebut, berdasarkan informasi masyarakat, salah satu penyuplai utama narkoba diduga berasal dari Kecamatan Kilo, yang kemudian diedarkan secara masif ke Kecamatan Sanggar dan sekitarnya.
“Ini bukan lagi isu kecil. Aktivitas jual beli narkoba sudah sangat terbuka. Kami menduga ada bandar besar berinisial A yang mengendalikan peredaran di Sanggar dan Kilo,” ujar Hendri, Jumat (6/2).
Ia menilai lemahnya penindakan aparat menimbulkan kecurigaan publik. Bahkan, Hendri menduga terdapat oknum di tubuh kepolisian yang membekingi jaringan tersebut, sehingga para bandar leluasa menjalankan aksinya tanpa rasa takut.
Dampak peredaran narkoba ini, lanjut Hendri, telah meresahkan masyarakat. Ia mencontohkan kasus pencurian di Desa Taloko yang berujung pada penganiayaan terhadap korban, yang diduga kuat dipicu oleh pengaruh konsumsi narkoba.
“Narkoba bukan hanya merusak generasi, tapi juga memicu kriminalitas. Masyarakat Sanggar dan Kilo kini hidup dalam keresahan,” tegasnya.
Atas kondisi itu, FMPH mendesak Kapolda NTB segera menangkap bandar narkoba berinisial A yang diduga menjadi pengendali utama jaringan di dua kecamatan tersebut.
Selain itu, Hendri juga meminta dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Kasat Narkoba Polres Bima dan Polres Dompu.
“Kami meminta Kapolda NTB bersikap tegas dan transparan. Jika memang ada oknum yang bermain, harus ditindak tanpa pandang bulu. Jangan sampai institusi penegak hukum justru menjadi bagian dari persoalan,” katanya.
Hendri menegaskan, narkoba adalah musuh bersama. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut memerangi peredaran gelap narkotika sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan daerah.
Bahkan, ia menyampaikan ultimatum keras kepada Kapolda NTB. Jika aparat tidak segera bertindak menangkap bandar narkoba yang beroperasi di Sanggar dan Kilo, pihaknya meminta Kapolda bertanggung jawab secara moral.
“Kalau Kapolda tidak berani membersihkan jaringan narkoba ini sampai ke akar-akarnya, lebih baik mundur dari jabatannya,” pungkas Hendri.
Terkait pemberitaan diatas, pihak kepolisian belum sempat dikonfirmasi. Secepatnya akan dihubungi untuk dimintai tanggapan. (*)

















