Oleh : IMRAN, S.PdI., SH (Mahasiswa Magister Hukum UM Bima)
Bima, Sangiangpost. Id_ Perayaan Idul Fitri 1447 H jatuh pada momentum sejarah yang krusial, di mana tatanan dunia sedang mengalami guncangan hebat akibat eskalasi militer antara Iran dan Israel yang melibatkan hegemoni Amerika Serikat.
Di tengah dentuman mesin perang dan kegagalan diplomasi internasional, kemanusiaan seolah berada di titik nadir. Fenomena ini, dalam kacamata sosiologi politik, disebut sebagai dekadensi moral global—sebuah kondisi di mana nilai-nilai etika universal dikalahkan oleh kepentingan pragmatis dan realisme politik yang kaku.
Dalam situasi inilah, Idul Fitri bagi bangsa Indonesia harus dimaknai melampaui ritus keagamaan, yakni sebagai momentum untuk membumikan kembali Etika Pancasila sebagai kompas moral dunia.ini menunjukkan bahwa krisis global saat ini berakar pada hilangnya “empati kosmopolitan”.
Ketika negara-negara besar terjebak dalam logika zero-sum game, mereka mengabaikan dampak kemanusiaan yang destruktif. Pancasila, khususnya sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, menawarkan antitesis terhadap anarki tersebut.
Idul Fitri yang menekankan pada kesucian (fitrah) manusia, secara substansial selaras dengan prinsip Pancasila yang menempatkan martabat manusia di atas segalanya.
Membumikan etika ini berarti menolak normalisasi kekerasan yang hari ini dipertontonkan di panggung Timur Tengah oleh aktor-aktor global.Jika kita merujuk pada sejarah, Nabi Muhammad SAW memberikan keteladanan agung mengenai resolusi konflik dan etika perang yang beradab.
Saat peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekkah), Rasulullah tidak memilih jalur dendam atau pembersihan etnis terhadap kaum Quraisy yang bertahun-tahun menindasnya. Sebaliknya, beliau memaklumatkan pemaafan massal.
Sejarah ini mencatat bahwa kemenangan sejati dalam Islam bukanlah penghancuran musuh secara fisik, melainkan penaklukan kebencian di dalam hati.
Spirit inilah yang seharusnya diadopsi oleh para pemimpin dunia saat ini: bahwa kekuatan militer tanpa kendali moral hanya akan melahirkan siklus kehancuran yang tak berujung.
Dalam perspektif teologis, Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan manusia untuk menjadi penengah dan pendamai. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Dalil ini menegaskan bahwa peran umat Islam, terutama Indonesia sebagai negara Muslim terbesar, adalah sebagai mediator atau wasathiyah (moderat).
Di tengah ketegangan Iran-Israel-AS, Idul Fitri 1447 H adalah momentum bagi Indonesia untuk mengamplifikasi pesan perdamaian ini ke kancah internasional melalui diplomasi yang berbasis pada etika ketuhanan dan kemanusiaan.
Secara akademik, posisi Indonesia dapat dianalisis melalui teori Constructivism dalam Hubungan Internasional, yang menekankan bahwa identitas dan norma sebuah bangsa dapat mengubah struktur dunia.
Indonesia memiliki modal sosial unik berupa “Gotong Royong” dan “Bhinneka Tunggal Ika”. Jika dunia sedang sakit karena polarisasi ekstrem, maka Idul Fitri di Indonesia yang penuh dengan tradisi maaf-memaafkan (Halal bihalal) adalah model resolusi konflik yang sangat relevan.
Etika Pancasila menyediakan ruang bagi perbedaan tanpa harus berujung pada eliminasi pihak lain, sebuah konsep yang gagal dipahami oleh logika perang modern.
Krisis moral global juga tecermin dari ketimpangan ekonomi yang diperparah oleh biaya perang yang selangit.
Mengutip riset dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), belanja militer global terus memecahkan rekor di saat jutaan manusia terancam kelaparan. Idul Fitri dengan instrumen Zakat Fitrah-nya memberikan kritik tajam terhadap sistem ekonomi global yang diskriminatif.
Zakat mengajarkan bahwa kemenangan pribadi tidak sah tanpa adanya jaminan kesejahteraan kolektif. Ini adalah bentuk nyata dari sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” yang seharusnya diekstrapolasi menjadi keadilan sosial bagi seluruh penduduk dunia.
Lebih lanjut, keterlibatan Amerika Serikat dalam mendukung salah satu pihak dalam konflik Timur Tengah sering kali dipandang sebagai standar ganda moralitas.
Mengutip pemikiran filsuf politik Jürgen Habermas tentang Communicative Action, perdamaian dunia hanya bisa dicapai jika semua pihak bersedia berdialog tanpa dominasi kekuasaan.
Namun, saat ini, dialog internasional sering kali dibungkam oleh hak veto dan kekuatan senjata. Idul Fitri 1447 H menantang hegemoni ini dengan mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan, tak ada bangsa yang lebih superior.
Kesadaran akan keterbatasan manusiawi ini adalah fondasi bagi terciptanya tatanan dunia yang lebih demokratis dan etis.
Di dalam negeri, tantangan Idul Fitri kali ini adalah menjaga agar masyarakat Indonesia tidak terprovokasi oleh sentimen sektarian yang sering kali ditunggangi oleh narasi perang global.
Polarisasi dunia bisa berdampak pada keretakan sosial domestik jika tidak dibentengi dengan Etika Pancasila.
Moderasi beragama harus menjadi nafas dalam merayakan kemenangan. Kemenangan melawan nafsu selama Ramadhan harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial yang inklusif, di mana kita merangkul sesama tanpa memandang latar belakang ideologi politik maupun agama, demi menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian global.
Oleh karena itu, refleksi Idul Fitri 1447 H harus diarahkan pada upaya “Rehumanisasi”. Dunia memerlukan sentuhan kemanusiaan yang hangat di tengah dinginnya kalkulasi teknologi perang dan kecerdasan buatan militeristik.
Mengutip referensi ilmiah dari konsep Global Ethic oleh Hans Küng, perdamaian antarnegara menuntut standar etika yang disepakati bersama.
Indonesia, dengan Pancasila sebagai ideologi terbuka, memiliki otoritas moral untuk menawarkan nilai-nilai luhur tersebut kepada dunia sebagai alternatif dari sistem global yang kian amoral dan anarkis.
Sebagai penutup, Idul Fitri 1447 H bukan sekadar hari untuk berganti pakaian baru, melainkan hari untuk memperbarui komitmen kita pada kemanusiaan.
Membumikan Etika Pancasila berarti berani bersuara lantang menolak peperangan di mana pun, baik yang dilakukan oleh Iran, Israel, maupun didukung oleh Amerika Serikat.
Kemenangan sejati 1447 H adalah saat takbir yang berkumandang di seluruh pelosok nusantara mampu menggetarkan nurani dunia, mengingatkan semua pihak bahwa kita berasal dari fitrah yang sama, dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga bumi ini dari kehancuran moral dan fisik. (*)
