Kolaborasi YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi Hadirkan Ruang Belajar Baru bagi Anak-anak Bima

Berita57 Dilihat

Bima, Sangiangpost. Id— Semangat memperkuat budaya literasi dan meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Kabupaten Bima terus bergerak. Setelah melalui proses rehabilitasi, perpustakaan sekolah di SDN Sowa, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, kini siap diresmikan sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh baru bagi anak-anak di wilayah pesisir Soromandi.

Rehabilitasi perpustakaan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara YAPPIKA ActionAid bersama mitra lokal Yayasan YISA Ambalawi dalam program Sekolah Aman, di antaranya melalui penguatan pendidikan dan peningkatan literasi di delapan dampingan di Kabupaten Bima.

Sebelum direhabilitasi, kondisi perpustakaan SDN Sowa mengalami rusak berat dan tidak dapat digunakan selama beberapa tahun. Kerusakan tersebut membuat fasilitas perpustakaan tidak lagi mampu mendukung aktivitas belajar siswa, termasuk penguatan literasi dan numerasi di lingkungan sekolah.

Melihat kondisi tersebut, YAPPIKA ActionAid bersama mitra lokal Yayasan YISA Ambalawi melakukan rehabilitasi perpustakaan sekolah sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung penguatan literasi anak melalui Program Sekolah Aman.

Program Officer YISA Ambalawi, Hersan Hadi mengatakan, tidak hanya membantu memperbaiki bangunan perpustakaan yang rusak berat, YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi juga mendistribusikan ratusan bahan bacaan dan buku cerita anak untuk mendorong minat baca siswa serta memperkuat budaya literasi di sekolah.

Pada tahun kedua program Sekolah Aman di Kabupaten Bima, YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi mendistribusikan 7.450 buku, 40 kotak mainan kayu mengaja suku kata dan 80 sempoa.

Sementara pada tahun pertama program, YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi membantu sekolah delapan sekolah dampingan dengan menyalurkan 800 Majalah Bobo, 1.600 buku cerita anak, 600 buku membaca dan berhitung anak, 1.536 buku anak Cerita Rakyat Nusantara, 1.920 paket buku anak lancar membaca tanpa mengeja, 40 kotak kotak belajar mainan kayu mengeja suku kata, dan 80 sempoa alat hitung 17 tiang.

“Program pendampingan lahir dari hasil riset awal terhadap kondisi literasi dan numerasi siswa di delapan sekolah dampingan di Kabupaten Bima yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan dasar siswa,” ujar Hersan melalui pernyataan tertulis, Minggu (10/5/2026).

Dari 435 siswa kelas 3, kelas 4, dan kelas 5 yang diriset, hanya 83 siswa atau 19,08 persen yang masuk kategori literasi baik atau level 5. Sebanyak 198 siswa atau 45,52 persen berada pada kategori sedang atau level 3-4, sementara 154 siswa atau 35,40 persen masih berada pada kategori literasi kurang atau level 1-2.

Kondisi numerasi juga menunjukkan situasi yang tidak jauh berbeda. Dari 435 siswa yang diriset, hanya 83 siswa atau 19,08 persen yang masuk kategori numerasi baik atau level 5. Sebanyak 185 siswa atau 42,53 persen berada pada kategori sedang atau level 3-4, sedangkan 168 siswa atau 38,62 persen masih berada pada kategori kurang atau level 1-2.
Data tersebut menjadi dasar penting bagi YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi dalam mendorong penguatan pembelajaran literasi dan numerasi melalui pendekatan berbasis komunitas sekolah. Setahun program pendampingan berjalan, capaian literasi di delapan sekolah dampingan Yappika ActionAid dan YISA Ambalawi menunjukan progres 68% atau 295 siswa.

Peresmian perpustakaan direncanakan akan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Bima, dr H Irfan Zubaidy pada Senin siang (11/5/2026). Kegiatan ini juga akan dihadiri oleh Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bima, Camat Soromandi, Korwil Pendidikan Kecamatan Soromandi, kepala sekolah, guru, serta berbagai unsur masyarakat dan komunitas sekolah.

Tidak hanya menjadi seremoni peresmian bangunan, kegiatan tersebut juga akan menjadi ruang belajar bersama melalui agenda cross learning antarguru dari delapan sekolah dampingan YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi di Kecamatan Soromandi dan Kecamatan Wera.

Sekolah yang terlibat dalam kegiatan tersebut antara lain SDN Inpres Bala, SDN Wora, SDN Inpres Sangiang Pulau, SDN Inpres Ntoke Kecamatan Wera, SDN Inpres Lewintana Soromandi, SDN Teh Soromandi, SDN Inpres Sai Soromandi, dan SDN Sowa Soromandi.
Selama ini, program pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada rehabilitasi fisik perpustakaan sekolah, tetapi juga mendorong penguatan kualitas pembelajaran literasi dan numerasi melalui pelibatan komunitas sekolah yang terdiri dari guru, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar.

Berbagai aktivitas seperti penguatan budaya baca, pembelajaran kontekstual, pendampingan dan penguatan kapasitas guru, hingga keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak menjadi bagian penting dalam program tersebut.

Hasil pendampingan menunjukkan adanya progres dan perubahan positif di sekolah-sekolah dampingan, terutama dalam meningkatnya partisipasi komunitas sekolah dan tumbuhnya aktivitas literasi di lingkungan belajar, meskipun upaya penguatan masih terus dibutuhkan secara berkelanjutan.

Perpustakaan SDN Sowa diharapkan tidak hanya menjadi bangunan baru, tetapi menjadi simbol tumbuhnya harapan baru pendidikan di SDN Sowa Desa Kananta Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima— bahwa kolaborasi antara pemerintah, sekolah, masyarakat,dan berbagai pihak dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih hidup, inklusif, dan berdampak bagi masa depan anak-anak Kabupaten Bima.

Program Sekolah Aman YAPPIKA-ActionAid adalah inisiatif unggulan (flagship) sejak 2016 yang bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan sehat bagi anak-anak. Fokus utamanya adalah perbaikan infrastruktur sekolah, sanitasi, serta peningkatan literasi dan numerasi. Program Sekolah aman di Kabupaten Bima mulai dilaksanakan tahun 2025. Program Sekolah Aman dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia, antara lain Kupang, Sumba Barat, Sumba Timur NTT, Bogor Jawa Barat, Serang Banten, dan Sambas Kalimantan Barat.

Program Sekolah Aman dijalankan melalui empat pilar utama untuk mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak, yaitu:

1.Infrastruktur yang Baik

Mendorong tersedianya fasilitas dan sarana prasarana sekolah yang aman, layak, dan mendukung proses belajar anak, termasuk ruang belajar dan fasilitas sanitasi.

2.Pembelajaran Berkualitas

Memperkuat kualitas pembelajaran melalui peningkatan kapasitas guru, penguatan literasi dan numerasi dasar, serta pendekatan belajar yang partisipatif dan ramah anak.

3.Lingkungan yang Sehat

Mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang sehat, bersih, aman, dan mendukung perilaku hidup bersih dan sehat bagi siswa, guru, dan komunitas sekolah.

4.Akuntabilitas Sekolah dan Pelayanan Pendidikan

Memperkuat partisipasi masyarakat, transparansi, serta kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan komunitas dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Adapun YAPPIKA-ActionAid adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdiri sejak 1991, fokus pada advokasi kebijakan, perbaikan layanan publik, serta memerangi kemiskinan dan ketidakadilan. Sejak 2016, YAPPIKA resmi bergabung menjadi anggota federasi internasional ActionAid International, bekerja bersama organisasi masyarakat sipil untuk mewujudkan hak atas pelayanan publik yang adil dan berkualitas. Fokus kerja advokasi pelayanan publik dasar (seperti sekolah aman dan desa sehat), hak asasi manusia, serta pemberdayaan masyarakat untuk mengurangi ketimpangan sosial.

Sementara itu, YISA Ambalawi Mbojo (Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera) adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berpusat di Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Yayasan ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat, pendidikan, literasi, dan pembangunan sekolah aman, dan merupakan mitra YAPPIKA-ActionAid. (*)